1.Suku Badui

Suku Badui adalah suku yang berdiam di daerah Pegunungan Keundeng, yaitu di desa Kanekes, Leuwidamar, Kabupaten Lebak, propinsi Banten.Masyarakat Suku Badui masih memegang tradisi dan adat yang sangat kuat. Sebenarnya masyarakat tersebut lebih senang menyebut dirinya sebagai “orang Kanekes”. Nama Badui pertama kali diberikan oleh seorang peneliti Belanda. Peneliti itu memberi nama Baduy, sebab orang-orang Kanekes dianggap sama seperti orang Badawi atau Bedouin Arab yang hidupnya berpindah-pindah (nomaden). Nama Baduy bisa juga diambil dari sungai Badui dan Gunung Badui yang berada di daerah utara Kanekes.
Suku Badui terpisah menjadi tiga, yaitu :
A.Baduy Dalam
Disebut juga kelompok Tangtu. Kelompok ini benar-benar ketat menjalankan tradisi dan adat. Kampung yang termasuk ke dalam Badui Dalam adalah kampung Cibeo, Cikeusik, dan Cikartawana. Ciri khas pakaian yang selalu dikenakan oleh masyarakat Badui Dalam berupa ikat kepala berwarna putih, dan baju berwarna biru tua atau putih.
B.Badui Luar
Disebut juga dengan kelompok Panamping. Ciri khas masyarakatnya, yaitu selalu memakai ikat kepala yang berwarna hitam,  sama dengan warna pakaiannya. Desa yang termasuk ke dalam wilayah Badui Luar adalah desa Kaduketuk, Kadukolot, Gajeboh, Cikadu, dan Cisagu.
C.Badui Dangka
Berbeda dengan Badui Dalam dan Badui Luar, masyarakat Badui Dangka tidak tinggal di dalam daerah Kanekes. Mereka tinggal di luar wilayah tersebut. Desa yang termasuk dalam suku Badui Dangka ada dua desa, yaitu Desa Cibengkung atau disebut juga Padawaras, dan Desa Cihandam (disebut juga Desa Sirahdayeuh).

Kepercayaan
Awalnya, masyarakat Suku Badui menganut paham animisme. Mereka menyembah nenek moyang mereka. Namun, seiring berjalannya waktu, perlahan-lahan mereka dipengaruhi oleh agama Islam, Hindu, dan Budha. Meskipun demikian, mereka masih tetap menjalankan adat dan tradisi yang telah mereka lakukan sejak jaman nenek moyang dahulu.
Arca Domas adalah sebuah objek penting yang dianggap sakral bagi masyarakat Kanekes. Lokasi Arca Domas ini dirahasiakan. Setahun sekali, masyarakat setempat mengunjungi Arca Domas untuk melakukan pemujaan. Yang diperbolehkan mengunjungi Arca Domas hanyalah orang-orang tertentu, seperti ketua adat tertinggi, beserta orang-orang kepercayaannya.Di sekitar Arca Domas terdapat sebuah batu yang disebut Batu Lumping. Batu tersebut dapat menampung air. Jika pada saat pemujaan batu itu penuh dengan air, maka dipercaya bahwa hujan akan sering turun. Itu berarti panen di Desa Kanekes akan berhasil. Begitu pula sebaliknya. Jika Batu Lumping ditemukan kosong atau hanya berisi sedikit air, atau airnya berwarna keruh pada saat pemujaan, maka alamat buruk. Hujan akan jarang turun, dan panen kurang berhasil.
Mata Pencaharian
Masyarakat Kanekes hidup dari bertani. Selain itu, hutan di daerah Kanekes juga sangat menghasilkan. Berbagai macam buah tumbuh di hutan mereka. Karena itu, mereka hidup dari berjualan hasil bumi dan buah-buahan yang mereka peroleh dari hutan.Hingga saat ini, masyarakat Kanekes masih melakukan upacara seba. Yaitu upacara tanda patuh pada penguasa. Upacara seba ini dilakukan setahun sekali. Dalam upacara itu, masyarakat memberikan hasil bumi mereka kepada Gubernur Banten, yang dianggap sebagai penguasa setempat.Tulisan mengenai Suku Badui ini dapat digunakan untuk menyusun sebuah makalah Suku Badui. Namun, untuk menghasilkan makalah dengan kualitas yang baik, sebaiknya Anda mencari tambahan bahan dengan cara mendatangi perkampungan Suku Badui secara langsung agar datanya lebih akurat.Nenek moyang bangsa Indonesia telah mendiami kepulauan Nusantara sejak dahulu kala. Akan tetapi, walaupun tersebar di pulau-pulau berbeda, nenek moyang kita berasal dari satu ras yang sama. Dengan terpencarnya inilah maka membentuk sistem kebudayaan yang berbeda satu dengan lainnya. Dari sinilah muncul keragaman lengkap dengan budayanya masing-masing.Walaupun suku-suku bangsa tersebut memiliki perbedaan dalam budaya, tetapi semuanya menyatu membentuk negara Indonesia. Sehingga tidak salah apabila muncul istilah Bhinneka Tunggal Ika yang berarti berbeda-beda tetapi tetap satu.
Kepercayaan Sawu
Suku bangsa Sawu atau Sabu mendiami Pulau Sawu dan Pulau Raijua di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Agama Kristen sudah masuk ke Pulau Sawu, tetapi masyarakatnya masih banyak yang memeluk kepercayaan asli.
Ada beberapa upacara yang dilaksanakan sehubungan dengan kepercayaan asli ini, antara lain:
•    Upacara menyembah dewa Deo Mone Ae (dewa yang besar). Deo Mone Ae mempunyai tiga roh, yaitu Pulodo Wadu (roh yang mengatur musim kemarau; Deo Rai (roh yang mengatur musim hujan); Deo Heleo (roh yang mengawasi kehidupan manusia).
•    Upacara kematian yang dipimpin oleh Ratu Mone Pitu (imam yang berjumlah tujuh orang). Mereka menganggap roh-roh orang yang meninggal melakukan perjalanan dari dunia nyata ke dunia gaib dengan menggunakan Ama Piga Laga (perahu roh).
•    Upacara terhindar dari penyakit. Penyakit dianggap muncul karena gangguan dari makhluk halus, yaitu roh Suanggi dan Wango. Penyakit hanya dapat disembuhkan dengan cara melakukan upacara yang dipimpin oleh Mone Molara (dukun).
•    Upacara-upacara yang berkaitan dengan mata pencarian misalnya memanggil nira, memasak nira, tolak bala, bersih ladang, dan menanami ladang.
Hewue Udu
Prinsip kekerabatan orang Sawu adalah patrilineal. Keluarga batih bangsa Sawu disebut Huwue Dara Ammu yang bergabung dalam keluarga luas Hewue Udu secara klen patrilineal. Keluarga besar ini dikepalai oleh seorang pemimpin yang disebut Bangu Udu.Perkawinan yang ideal adalah Ana Mahamone, yaitu bila seorang laki-laki menikah dengan anak perempuan saudara laki-laki ibu. Pihak perempuan (Mone Anu) menuntut harga ganti gadis atau maskawin (Kebue) dari pihak laki-laki (Mone Ami). Masyarakat Sawu melarang perkawinan silang antara saudara suami dengan saudara istri atau sebaliknya.
Doute Rai
Masyarakat Sawu menyebut daerahnya Rai Hawu, dari nama tokoh mitologis Hawu Ga. Kata rai sendiri berarti tanah atau daerah adat. Rai Hawu dibagi menjadi empat rai, yaitu Haba, Dimu, Mahara, dan Liae. Semua kegiatan baik keagamaan, adat, maupun pemerintahan di keempat rai dipimpin oleh Doute Rai.
Ekonomi
Mata pencarian utama masyarakat Sawu adalah bertanam padi di sawah dan di ladang, terutama pada musim hujan. Sedangkan pada musim kemarau mereka menyadap nira lontar dan memasaknya menjadi gula. Selain menanam padi, banyak masyarakat Sawu yang menanam kelapa dan lontar. Sedangkan hewan ternak yang mereka pelihara adalah kerbau dan kuda.
Kesenian
Bangunan suku bangsa Sawu merupakan rumah berbentuk panggung yang berderet di sepanjang sisi sebuah lapangan yang terletak di suatu perkampungan. Pola perkampungan ini berbentuk bulat telur dan di kedua ujung perkampungan dibuat pintu gerbang.Akan tetapi, penduduk jarang tinggal di perkampungan ini. Mereka lebih sering berada di pondok-pondok (Liha Pada) yang didirikan di ladang. Seni tari mereka contohnya adalah Padaodan Ledo Han. Masyarakat Sawu juga memiliki seni membuat tenun ikat. Seni ikat yang sering diperlombakan pada uacara adalah Si Hawu dan Higihuri.
2.Suku Eskimo

Cara Hidup Suku Eskimo
Suku Eskimo memiliki gaya hidup yang unik. Mereka mendapatkan makanan dengan cara berburu binatang, seperti beruang dan serigala. Selain itu, mereka juga mendapatkan sumber makanan dengan cara memancing ikan. Pada umumnya makanan tersebut dikonsumsi dalam keadaan mentah. Hal ini dikarenakan kondisi mereka yang tinggal di daerah kutub yang senantiasas beku sehingga cukup sulit untuk mengolah makanan.

Pemukiman Suku Eskimo
Rumah suku Eskimo disebut Igloo. Uniknya, rumah yang berbentuk dome ini seluruhnya terbuat dari es dan pintu masuknya berbentuk silinder. Kontruksi bangunannya kuat karena terbuat dari es, namun tidak mudah mencair. Hal ini karena rumah igloo hanya dibuat ketika musim dingin tiba. Tujuannya untuk berlindung dari udara yang sangat dingin serta serangan binatang buas. Pada saat musim hangat (summer) igloo akan mencair.
Sebagai pintu masuk, dibangun sebuah terowongan kecil yang bertujuan agar menghambat masuknya angin secara langsung ke dalam ruangan sehingga ruangan tetap hangat sewaktu pintu dibuka. Untuk jendela dan sirkulasi udara satu atau dua buah balok es yang terdapat pada dinding rumah dilepas. Selain itu jendela ini juga berfungsi agar ruangan menjadi terang. Sebagai penghangat ruangan dipasang lampu tradisional suku Eskimo    yang    disebut        qulliq.

Menurut ukuran dan ruangannya, igloo ada tiga macam. yaitu:
•    Tipe kecil, dibangun pada saat berburu. Biasanya digunakan hanya untuk satu atau dua malam.
•    Tipe sedang (semipermanen), terdapat hanya satu ruangan yang biasanya bisa untuk ditinggali dua keluarga.
•    Tipe besar yang dibuat untuk momen khusus, terdiri dari lima ruangan yang dapat menampung sekitar dua puluh orang. Rumah igloo besar ini biasanya digunakan untuk acara pesta bersama dan dansa tradisional.
3.Suku Inka

Inka adalah sebuah kerajaan kuno yang dahulunya terletak di wilayah Peru. Kerajaan ini ada pada tahun 1438 dan berakhir sampai tahun 1533 masehi. Sukunya disebut Suku inka menguasai hampir seluruh Amerika Selatan bagian barat dengan pusat pemerintahan yang berada di sekitar pegunungan Andes. Sebagai suku kuno, suku ini telah memiliki kebudayaan yang cukup maju. Hal ini terkuak setelah dilakukan ekspedisi oleh para sejarahwan yang kemudian ditemukanlah kota yang hilang tersebut di pegunungan    Andes    sebagai        sisa-sisa    peradaban    suku    inka.
Para peneliti menemukan bekas jalan, sistem irigasi, serta bangunan-bangunan berupa candi kuno. Selain itu ditemukan juga beberapa mumi, yaitu mayat yang diawetkan, karena mereka percaya bahwa orang yang telah meninggal masih bagian dari mereka yang    masih    hidup.

Kepercayaan    Suku    Inka

Suku inka menyembah Dewa Matahari. Mereka senantiasa menyiapkan tumbal untuk diberikan kepada Sang Dewa berupa seorang anak kecil. Sebelum dijadikan tumbal, anak tersebut digemukkan terlebih dahulu dengan cara memberinya makanan yang enak dan bergizi seperti daging dan jagung sebagai pengganti kentang. Hal ini terungkap dari penemuan mumi anak-anak yang berusia sekitar lima belas tahun. Selain itu ditemukannya lokasi tempat pelaksanaan ritual juga, semakin memperkuat bahwa suku ini    dahulunya    adalah    pemuja        Dewa    Matahari.

Kebudayaan    Suku    Inka    yang    Maju

Di lokasi suku inka berdiam ditemukan puing-puing yang menunjukkan bekas jalan. Walaupun pada waktu itu belum mengenal berbagai macam kendaraan beroda dua, mereka telah mampu membangun jalan-jalan yang bagus. Selain itu, sistem irigasi yang mereka gunakan juga cukup maju pada waktu itu. Karena tinggal di daerah pegunungan, mereka membuat lereng-lereng gunung sedemikian rupa sebagai lahan untuk bercocok tanam.
Suku inka terkenal dengan konstruksi bangunannya yang bagus dan terbaik di dunia. Mereka membuat rumah dari batu dan beratapkan jerami. Sebagai pemanas ruangan mereka membuat perapian yang berasal dari pembakaran organik, yaitu dari kotoran hewan yang dikeringkan.

Akhir    Masa    Kejayaan    Suku    Inka

Menurut sejarah, kehancuran peradaban inka diawali dengan terjadinya gempa bumi. Kemudian wilayah kerajaan ini dihempas ombak besar dan menyebarnya hama penyakit yang memakan banyak korban jiwa. Pada akhirnya kerajaan ini benar-benar runtuh dan musnah setelah kedatangan tentara Spanyol pada tahun 1533 yang bermaksud untuk menguasai wilayah mereka. Raja inka yang terakhir, Altahuapa, tewas dalam peperangan tersebut.Banyak orang kerap salah paham antara suku Ainu dengan orang Jepang. Orang kerap mengira bahwa suku Ainu adalah orang Jepang, demikian pula sebaliknya. Padahal suku Ainu dengan orang Jepang adalah dua jenis etnis yang berbeda.
4.Suku Ainu

Sejarah Singkat Suku Ainu
Dalam bahasa Ainu, ‘Ainu’ berarti manusia. Suku Ainu adalah orang-orang dengan latar belakang budaya dan ras yang berbeda dengan etnis Jepang. Mereka telah menghuni Hokkaido, Tohoku utara, Kepulauan Kurile dan Sakhalin. Saat ini ada lebih dari 150 ribu jiwa suku Ainu, dengan sebagian kecil populasinya berada di Hokkaido. Angka inipun tidak tepat betul, karena banyak orang menyembunyikan identitas suku Ainu mereka demi menghindari rasisme.
Salah satu teori mengatakan, suku Ainu adalah keturunan migran Mongoloid yang memasuki kepulauan Jepang sebelum masa Jomon. Mereka kemudian mengungsi dan berasimilasi, ketika etnis Jepang mulai memperluas wilayah mereka.
Sejatinya dahulu, suku Ainu adalah petarung yang tangguh. Namun kala Jepang mulai memperluas wilayah ke utara dan mengambil alih tanah mereka, suku Ainu kerap menyerah tanpa perlawanan. Pada tahun  1457, 1669 dan 1789 memang sempat terjadi perang, namun selalu berahir dengan pihak suku Ainu yang kalah.Kebijakan Jepang untuk mereformasi suku Ainu pun meluas pada periode Meiji (1868-1912). Kala itu, suku Ainu memperoleh status sebagai “mantan penduduk asli”. Tak hanya itu, Jepang juga melarang bahasa Ainu, membatasi lahan suku Ainu, serta mempekerjakan sejumlah orang dari suku Ainu sebagai budak industri perikanan Jepang. Baru pada tahun 1997, sebuah undang-undang mengenai penyediaan dana untuk penelitian dan kebudayaan suku Ainu disahkan. Dan suku Ainu pun bisa bernapas lega.
Tampilan Fisik Suku Ainu
Tampilan fisik suku Ainu pada umumnya lebih pendek dari orang Jepang. Tubuh mereka kuat, proporsional, dengan mata coklat gelap, tulang pipi tinggi, hidung pendek dan wajah lebar, rambut lebat dan berombak.Karena para pria suku Ainu tak mencukur kumis sampai umur tertentu, maka wajah mereka pun lebat dengan jenggot dan kumis. Sementara rambut pria dan wanita suku Ainu sama-sama dipotong sebahu. Bedanya, para wanita suku Ainu kerap menato mulut, lengan, dan dahi mereka.Pakaian tradisional suku Ainu adalah jubah pintal dari kulit pohon elm. Jubah dengan panjang hampir mencapai mata kaki ini juga berlengan panjang dan diikat dengan korset dari bahan sama. Pada musim dingin, mereka mengenakan kulit binatang, berupa legging dari kulit rusa atau sepatu bot dari kulit anjing atau salmon.Baik pria maupun wanita suku Ainu gemar mengenakan anting-anting. Dan bagi suku Ainu, perhiasan yang bernilai tinggi adalah tamasay, sejenis kalung manik-manik.
Kehidupan Suku Ainu
Rumah suku Ainu terbuat dari buluh-jerami. Dengan luas mencapai 20 kaki, rumah suku Ainu tidak bersekat dan memiliki perapian di tengah. Ada cerobong asap berupa lubang di sudut atap, ada satu jendela di sisi timur dan ada dua pintu.Rumah itu hanya punya sedikit mebel. Alih-alih menggunakan kursi atau meja, mereka duduk di lantai beralaskan dua lapis tikar. Saat tidur, mereka menggantung tikar pada dua tiang.Suku Ainu tidak pernah makan daging atau ikan mentah. Meski berburu daging beruang, rubah, serigala, musang, sapi, kuda, ikan, dan unggas, mereka selalu merebus atau memanggangnya dengan sayur, akar dan rempah-rempah sayuran, rempah-rempah, dan akar. Saat makan, para pria menggunakan sumpit, sementara para wanita menggunakan sendok kayu.
Kepercayaan Suku Ainu
Tidak ada literatur rinci tentang sejarah suku Ainu, namun ada warisan yang kaya dari kisah-kisah lisan, yang disebut Yukar. Suku Ainu percaya bahwa bumi mengambang dan bahwa “Ainu Mosir”, atau tanah dari manusia (sebagai lawan “Kamui Mosir”, tanah para dewa), terletak di punggung ikan yang gerakannya bisa menyebabkan gempa bumi.Suku Ainu juga percaya bahwa segala sesuatu di alam memiliki “Kamui” (roh atau dewa) di dalam. Karena tidak memiliki imam khusus serta kuil untuk upacara, maka kepala desalah yang melakukan upacara keagamaan apa pun yang diperlukan.Orang-orang Ainu selalu berdoa sebelum makan, dan berdoa kepada dewa api saat mereka jatuh sakit. Mereka percaya roh mereka abadi, juga mempercayai konsep surga dan neraka. Karena mereka juga percaya surga dan neraka berada jauh di kedalaman bumi, maka bagi mereka, neraka berada di bawah gunung berapi.Irian Jaya atau Papua memiliki begitu banyak suku yang hidup tersebar di berbagai wilayah daerahnya.
5.Suku Asmat

Salah satu di antara suku terbesar dan paling terkenal di tanah Papua adalah suku Asmat.
Seni Ukir
Suku Asmat dikenal karena hasil kerajinan tangan yang berupa ukiran kayu khas. Beberapa ornamen yang sering digunakan oleh para pematung asli Asmat tersebut biasanya mengambil tema arwah nenek moyang mereka atau biasa disebut mbis.Sering dijumpai pula bentuk ornamen serupa perahu atau wuramon yang mereka percayai sebagai perahu arwah yang membawa nenek moyang mereka di alam kematian. Seni ukir kayu memang menjadi sebagian cara mereka melakukan ritual mengenang arwah para pendahulunya.
Ciri Fisik
Hampir sama dengan beberapa suku yang ada di Papua lainnya, fisik anggota suku Asmat rata-rata kekar dan tegap. Hal tersebut mungkin karena kebiasaan mereka berjalan dan berburu serta melakukan berbagai aktivitas fisik lainnya.Warna kulit suku Asmat hampir sama dengan suku Polinesia lainnya, yaitu coklat gelap sampai hitam. Hidung mancung serta rambut keriting rapat, membuat penampilan mereka terkesan seram.
Kanibal
Dahulu, suku-suku di pedalaman Papua terkenal sering sekali melakukan perang suku. Demikian juga dengan suku Asmat. Sebagai suku terbesar, mereka ditakuti oleh sebagian besar suku lainnya.Ada sebuah kebiasaan mengerikan dahulu saat mereka berhasil menang perang dan membunuh musuhnya. Yaitu mayat musuh tersebut akan dibawa pulang ke kampung mereka dan dijadikan sebagai hidangan untuk makan semua warga.
Wilayah Suku Asmat
Wilayah yang dihuni oleh suku Asmat terletak antara laut Arafuru dan pegunungan Jayawijaya, serta rimba belantara luas. Itu sebab mengapa kemajuan sulit menjangkau mereka karena letak wilayah yang terisolasi.Tanah tempat mereka tinggal terdiri atas rawa-rawa, sehingga pembangunan landasan lapangan udara menjadi sulit. Transportasi hanya dapat dilakukan melalui sungai dan juga laut, serta pesawat kecil yang mampu mendarat di landasan pacu kecil.Perhatian pemerintah daerah sangat besar untuk mereka selama ini. Terbukti dengan beberapa kali diikutsertakannya pengukir asli suku Asmat dalam beberapa event budaya nasional maupun juga internasional.   Riau dihuni oleh penduduk asli yang punya kebiasaan hidup nomaden alias berpindah-pindah. Komunitas suku penduduk asli Riau ini bernama suku Sakai.
6.Suku Sakai

Asal-Usul Suku Sakai
Ada beberapa kepercayaan tentang asal-usul masyarakat suku Sakai. Sebagian mengatakan asal suku ini adalah dari sebagian masyarakat Pagaruyung Sumatra Barat yang terdesak karena konflik adat dan agama, hingga lantas melarikan diri ke Riau.Sebagian kepercayan lain mengatakan bahwa  suku ini berasal dari keturunan Nabi Adam yang langsung hijrah dari tanah Arab, terdampar di Sungai Limau, dan hidup di Sungai Tunu.Namun, tidak ada sumber tertulis pasti tentang asal-usul sesungguhnya suku Sakai ini. Bisa jadi anggapan pertama benar adanya, namun bisa juga kedua anggapan tersebut benar. Karena begitu banyaknya tersebar masyarakat suku Sakai ini di sepanjang daratan Riau dan juga Jambi.
Arti Nama Sakai
Nama Sakai konon berasal dari huruf awal kata Sungai, Kampung, Anak, dan Ikan. Maknanya, mereka adalah anak-anak negri yang hidup di sekitar sungai dan mencari penghidupan dari hasil kekayaan yang ada di sungai berupa ikan.Jelas julukan ini diprotes oleh masyarakat suku Sakai yang sudah maju, karena hal tersebut berkonotasi pada hal yang tidak kuno dan bodoh, serta tidak mengikuti kemajuan jaman. Sedangkan kenyataannya kini, masyarakat Sakai sudah tidak lagi banyak yang masih melakukan tradisi hidup nomadennya, karena wilayah hutan yang semakin sempit di daerah Riau.
Lebih Maju
Kehidupan masyarakat Sakai saat ini sudah banyak dipengaruhi oleh pendatang serta pekerja perkebunan dari tanah Jawa, Medan, Padang dan juga beberapa daerah di Sumatra lainnya. Banyaknya pembukaan hutan untuk perkebunan sawit dan juga pemukiman penduduk baru serta program transmigrasi, telah mempengaruhi cara pemikiran dan juga pola hidup suku sakai.Mereka kini jarang yang hidup di hutan, tetapi menetap bersama-sama dengan pendatang. Kepercayaan animisme yang dahulu dianut oleh sebagian besar suku Sakai, kini berganti dengan beberapa agama seperti Islam, atau pun juga Kristen. Sehingga keyakinan terhadap makhluk halus yang sering disebut ‘Antu, tidak lagi menyelimuti kehidupan mereka. Mereka pun telah menerima pendidikan dan mau menyekolahkan anak-anaknya ke sekolah.
7.Suku Apache

Suku Apache adalah nama dari suku Indian yang berdiam di Benua Amerika. Mereka adalah suku yang kuat dan memiliki strategi perang yang handal. Suku ini bermusuhan dengan bangsa kulit putih. Dalam pertempuran melawan kulit putih mereka selalu menang. Kekalahan pertama terjadi pada tahun 1886.Dahulu Suku Apache tinggal di barat daya Meksiko dan Arizona bagian tenggara. Baru-baru ini, mereka berpindah dari utara ke selatan Amerika. Suku ini terdiri dari beberapa kelompok utama, di antaranya adalah Mescalero, Mogollon, Coyotero, Arivaipa, Naisha,  Tchishi, Faraone, Lanero, Gileno, Chiricahua, Mimbreno, dan Tchikun. Saat ini jumlah populasi suku ini yang tersisa hanya sebanyak 11.000 jiwa yang tersebar di Oklahoma, Arizona, dan New Meksiko.
Sejarah Permusuhan dengan Kulit Putih
Suku apache merupakan salah satu rumpun suku Indian yang hidup di benua Amerika. Suku ini bisa dikatakan sebagai suku asli yang telah ada sejak zaman dahulu sebelum Christoper Colombus menemukan benua Amerika. Sejak kedatangan Colombus, orang-orang kulit putih berdatangan ke Amerika untuk kemudian tinggal dan menetap di sana. Kedatangan orang-orang kulit putih ini awalnya disambut baik oleh suku Indian. Mereka mengadakan penghormatan khusus secara sakral atas kedatangan kaum kulit putih tersebut. Namun seiring berjalannya waktu, orang-orang kulit putih mulai merampas tanah-tanah milik orang Indian. Mereka diperlakukan tidak adil dan kejam, tak jarang terjadi pertumpahan darah. Suku Indian dipaksa menyingkir dari tanah kelahirannya, mereka sering dikejar dan diusir dari wilayah teritorialnya. Tidak sedikit tanah suku Indian yang dibeli tanpa dibayar. Terkadang tanah tersebut dibarter dengan barang-barang yang tak berharga yang sudah tidak bisa dimanfaatkan lagi sebagai imbalan. Dan pada akhirnya suku Indian terpaksa mengungsi ke pelosok-pelosok hutan belantara, untuk menghindari tindakan kejam dari orang-orang kulit putih itu. Berlatar belakang persitiwa tersebutlah, hingga saat ini suku apache terus mengibarkan bendera permusuhan dengan orang kulit putih. Karena rasa kecewa yang mendalam mereka membunuh setiap orang kulit putih yang ditemui. Tak dapat dielakkan, terjadilah pembantaian masal yang dilakukan oleh orang kulit putih terhadap orang-orang suku Indian. Tentu saja suku-suku ini pada akhirnya mengalami kekalahan, karena yang mereka hadapi adalah orang-orang dengan peradaban yang maju, yang memiliki persenjataan lengkap seperti pistol dan senapan. Sehingga populasi suku inidan dan suku apache khususnya semakin berkurang, dan kebanyakan dari mereka tinggal di pedalaman.
8.Suku Samin

Sejarah Suku Samin
Suku Samin bisa dibilang agak berbeda dari suku-suku bangsa pada umumnya. Seperti yang kita ketahui, suku umumnya terbentuk atas dasar asal-usul /silsilah keluarga. Namun suku Samin terbentuk atas dasar pengaruh ajaran/paham yang disebarkan oleh seseorang.
Suku Samin adalah sekelompok orang di Jawa dan menjadi penganut ajaran Samin Soerosentiko (nama aslinya dalah Raden Kohar), ajaran ini juga disebut Saminisme.Ajaran Saminisme ini sendiri juga sering disebut sebagai ajaran sedulur sikep, yaitu suatu paham yang didasarkan pada sikap penolakan dan perlawanan terhadap penjajah Belanda saat itu. Perlawanan yang dilakukan bukan dalam hal peperangan menggunakan senjata, tapi lebih kepada cara “halus”, yaitu dengan menolak segala aturan yang dibuat para pemerintah Belanda saat itu, termasuk menolak pembayaran pajak. Ajaran ini sendiri mulai disebarkan oleh Samin Surosentiko pada sekitar akhir tahun 1800-an di Blora, Jawa Tengah. Setelah itu menyebar ke daerah lain (ke arah timur) sampai masuk ke wilayah Bojonegoro, Jawa Timur. Nama “samin” sebenarnya memiliki citra negatif, karena pada awalnya di tahun 1800-an, orang Samin dianggap sebagai kelompok orang yang tidak jujur karena prinsip mereka yang melawan pemerintah. Karena itu mereka lebih suka dikenal sebagai “wong sikep” (orang baik dan jujur).
Ciri-Ciri Suku Samin
•    Memiliki ajaran-ajaran pokok.

Ajaran suku Samin antara lain:
1.
1.    Agama adalah pegangan hidup. Jangan membeda-bedakan agama, karena yang terpenting dalam kehidupan adalah tabiat.
2.    Jangan suka mencuri dan mengganggu orang lain.
3.    Harus sabar dan tidak sombong.
4.    Harus memahami makna hidup, bahwa yang hidup adalah roh dan roh tak pernah mati.
5.    Bertutur kata sopan, halus, jujur, dan saling menghormati.

•    Banyak yang menganggap suku Samin sebagai orang yang berpendidikan rendah. Ini bukan tanpa alasan, karena  ajaran Saminisme juga mencakup tentang tidak dibolehkannya seseorang untuk bersekolah.
•    Suku Samin menolak adanya teknologi modern, seperti alat-alat pertanian yang mempermudah pekerjaan, alat-alat rumah tangga, dll.

•    Mata pencaharian mereka adalah bertani dan memanfaatkan kekayaan alam. Mereka sama sekali tidak berdagang, karena mengganggap berdagang adalah pekerjaan yang tidak jujur.
•    Bahasa yang digunakan orang Samin adalah bahasa Jawa ngoko atau kasar. Di dalam suku Samin tidak ada tingkatan bahasa seperti orang Jawa pada umumnya. Menurut mereka, bahasa apapun tidak menunjukkan kesopan santunan, karena sopan hanya ditunjukkan dari sikap dan tindakan.
•    Agama yang mereka anut adalah agama Adam dan ada kemiripan dengan Islam (tidak diakui negara).
•    Suku Samin selalu memakai ikat kepala, celana pendek selutut/ diatas mata kaki (laki-laki) dan kebaya (wanita). Warna pakaian mereka biasanya hitam atau gelap.
•    Tradisi suku Samin yang juga unik nampak pada perkawinannya. Saat perkawinan, pemudanya mengatakan kalimat syahadat yang kira-kira berbunyi “sejak Nabi Adam, pekerjaan saya adalah kawin. Kali ini saya mengawini wanita bernama (nama pengantin wanita) dan saya berjanji hidup setia padanya. Hidup bersama telah kami jalani berdua.”
Suku Samin Saat Ini
Seiring dengan berjalannya waktu, suku Samin mulai mengalami perubahan. Misalnya mulai menggunakan peralatan modern. Namun, suku Samin tetap tidak menyukai pemerintahan Indonesia seperti halnya mereka membenci pemerintahan Belanda zaman dulu. Mereka menilai pemerintah Indonesia saat ini penuh ketidak jujuran dan merasa tidak wajib untuk patuh pada mereka.Salah satu bentuk ketidak sukaan mereka pada pemerintahan bisa dilihat dalam hal tradisi perkawinan. Mereka melaksanakan perkawinan namun tidak mendaftarkan perkawinan tersebut pada KUA.Suku Kaili merupakan suku bangsa yang tinggal di wilayah Sulawesi Tengah. Khususnya di Kabupaten Donggala, Sigi, dan Kota Palu. Selain itu, daerah Parigi-Moutong dan Kabupaten Poso pun tak luput menjadi daerah penyebarannya suku tersebut.
Ada sejumlah versi mengenai asal-usul nama “Kaili” ini. Secara kebahasaan, kata kaili berasal dari nama pohon. Kaili tumbuh subur di daerah tepi sungai Palu dan Teluk Palu. Berdasarkan cerita daerah setempat, di dekat Kampung Bangga tumbuhlah menjulang pohon kaili yang sering dijadikan sebagai panduan bagi para pelaut dalam menentukan arah menunju pelabuhan Banggai.

Bahasa Suku
Lazimnya sebuah suku memiliki bahasa daerah. Demikian pula dengan suku Kaili yang memiliki bahasa sendiri yang digunakan dalam percakapan sehari-harinya. Mereka menyebutnya dengan bahasa “Ledo” yang artinya “tidak”. Walau sesungguhnya dintara suku-suku Kaili juga banyak terdapat bahasa lainnya yang digunakan antarkampung. Namun Ledo menjdi “bahasa persatuan” masyarakat Kaili. Bagi Anda yang berkunjung menemui suku ini masih bisa menemukan bahasa asli Ledo (yang masih belum terkontaminasi dengan bahasa asing) di sekitar Tompu dan Raranggonau.
Sementara di daerah-daerah seperti Biromaru atau Palu bahasa Ledo yang menjadi bahasa pemersatu suku Kaili sudah tak asli lagi karena sudah banyak dipengaruhi dan terkontaminasi oleh bahasa Bugis atau bahasa Melayu.

Aspek Kebudayaan
Peninggalan kebudayaan yang merupakan warisan turun-temurun dari para leluhur suku Kaili masih dilestarikan hingga kini. Terutama di saat-saat perayaan hari besar seperti: pernikahan, dan sebagainya. Hukum adat dan budaya begitu dijunjung tinggi dan dipertahankan dari pengaruh budaya luar.
Beberapa diantara penyelenggaraan upacara kebudayaan biasanya dilakukan di saat pesta perkawinan (No Rano, No Raego), upacara panen raya (No Vunja), upacara orang meninggal (No Vaino), atau upacara penyembuhan penyakit. Pengaruh nilai-nilai adat budaya Kaili dalam setiap perayaan tersebut masih kental unsur animisme.
Adapun instrumen musik yang menjadi kebanggaan suku Kaili ini antara lain  Lalove, Nggeso-nggeso, Kakula, dsb. Salah satu kebiasaan wanita suku Kaili yakni menenun sarung. Sarung-sarung hasil tenunan tersebut dalam bahasa Kaili lebih dikenal dengan sebutan Buya Sabe. Masyarakat umum mengenalnya sebagai sarung Donggala. Buya Sabe inipun mempunyai beberapa nama lagi, seperti Subi, Kumbaja, dan Bomba.

Aspek Kepercayaan
Sebagaimana suku tua yang banyak menganut aliran kepercayaan terhadap benda-benda seperti batu dan pohon besar, tak beda jauh dengan suku Kaili yang dulunya banyak masyarakatnya menganut animisme. Diantara dewa-dewa yang banyak dipercaya sebagai tuhan mereka adalah: Tomanuru (sang pencipta), Buriro (yang menyuburkan tanah), Tampilangi (dewa yang bertugas menyembuhkan penyakit), dsb. Namun setelah agama Islam masuk, aliran-aliran tersebut secara perlahan banyak ditingalkan oleh warga setempat. Abdul Raqi, seorang ulama Islam keturunan Raja dari Minangkabau yang beperan sangat besar dalam menyebarkian Islam di suku Kaili.
Sementara yang patut kita tiru dari kebiasaan suku Kaili yakni hubungan kekerabatannya yang sangat kuat, terutama sekali terlihat ketika dalam upacara-upacara besar seperti keagamaan, kematian, dan pernikahan.
9.Suku Bajo

Suku Bajo terletak di Kepulauan Tukang Besi (dulu) yang sekarang berubah nama menjadi Wakatobi, di Sulawesi Tenggara, suatu wilayah yang sangat terkenal dengan keindahan alam bawah lautnya. Wakatobi yang menjadi wilayah atau tempat berkoloninya suku laut Bajo merupa kependekan dari nama pulau-pulau besar, yaitu: Wangi-wangi, Kaledupa, Tomea, Binongko (Wakatobi). Suku Bajo betah menetap tinggal di pula Wakatobi, di atas perairannya. Suku ini, belakangan semakin intensif berekspansi ke wilyah nusantara lainnya. Mereka juga semakin banyak terdapat di Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Johor. Tak hanya di dua tempat tersebut, suku tersebut juga semakin banyak terdapat di wilayah lain di berbagai wilayah kepulauan nusantara. Dan mereka membangun komunitasnya sendiri.
Sejarah Suku Bajo
Konon, nenek moyang suku Bajo berasal dari Johor, malaysia. Alkisah, dahulu kala seorang puteri dari kerajaan Johor hilang entah kemana. Maka sang raja yang bukan main kelimpungan mencarinya menitahkan kepada segenap warganya untuk mencari keberadaan sang puteri. Tersebarlah orang-orang Johor tersebut, bukan hanya ke seantero negeri di Johor, tapi juga sampai ke daerah Sulawesi.Menurut sejumlah versi menyebutkan bahwa sang puteri memilih untuk menetap di Sulawesi, dan sejalan dengan itu orang-orang yang disuruh paduka raja pun lebih memilih untuk menetap di Sulawesi dan tak kembali lagi ke Johor. Sang puteri yang pada akhirnya menikah dengan seorang raja Bugis tersohor kemudian menempatkan masyarakatnya dari Johor di sebuah kampung bernama Bajo. Maka, sampai sekarang tersebutlah suku Bajo itu.Laut, bagi suku Bajo menjadi andalan satu-satunya. Dari mulai hidup, bertempat tinggal, sampai mencari kehidupan dilakukannya dengan banyak berinteraksi dengan laut. Mereka pun mendapatkan julukan sea nomads, yang artinya hidup di laut dan tidak menetap di suatu tempat. Seiring dengan berjalannya waktu, akhirnya suku Bajo banyak yang menetap di darat meski mungkin dipaksa pemerintah. Meski demikian, tempat tinggal mereka di darat pun tak jauh-jauh dari laut.Suku Bajo banyak dikenal mudah menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Dari adanya saling interaksi tersebut menyebabkan suku ini banyak yang tersebar di berbagai daerah di tanah air. Di Jawa Timur misalnya, suku Bajo banyak tinggal di Kepulauan Kangean, Sumenep, Madura. Mereka tinggal bersama dengan suku setempat: Bugis dan Madura. Di Bali, Suku Bajo terdapat di Singaraja dan Denpasar. Di Lombok, mereka banyak dijumpai di Labuhan Haji, Lombok Timur. Dan di Sumbawa mereka banyak terdapat di Pulau Moyo.
Keunikan Suku Bajo
Suku Bajo memiliki banyak keunikannya tersendiri, diantara salah satunya yakni menjadikan perahu atau sampan sebagai tempat hidup dan alat transportasi utama. Lebih dari itu, sampannya juga digunakan sebagai tempat untuk mencari nafkah dengan menjual berbagai hasil tangkapan laut sebagai mata pencaharian utama mereka.Selain sampan sebagai tempat berkegiatan ekonomi, kerajinan kain tenun tradisional juga menjadi kegiatan tak terpisahkan dari kaum ibu di Wakatobi tersebut. Kain-kain seperti ledja dan kasopa ditenun dengan alat-alat tradisional dengan motif yang khas. Suku Bajo lebih percaya kepada kearifan lokal ketimbang berbagai instrumen modernitas yang masif berkembang di luar kebudayaan laut suku di Wakatobi tersebut.Wilayah Irian Jaya memiliki sejarah kesenian yang panjang. Sebelum peradaban luar datang, mereka sudah mengenal dan mengembangkan berbagai kesenian lokal. Bagi suku Irian Jaya, kesenian bukan sekadar  ungkapan ekspresi dan estetika, melainkan alat komunikasi dengan alam gaib. Tidak heran bila banyak ritual yang sarat dengan simbol-simbol tertentu yang bermakna sakral.Suku asli Irian Jaya sekitar 193 suku, di antaranya Asmat, Dani, Imeko, dan lain-lain. Secara geografis, mereka menyebar di tiga wilayah, yaitu pesisir, pedalaman, dan dataran tinggi. Kondisi wilayah dan tempat tinggal yang berbeda mempengaruhi seni dan budaya masyarakatnya sehingga menjadi lebih berkembang dan variatif.
10.Suku Asmat
Suku Asmat tinggal di antara Suku Mappi, Yohukimo, dan Jayawijaya. Mereka terbagi menjadi dua daerah, yaitu daerah pesisir pantai dan pedalaman. Suku Asmat yang tinggal di pesisir pun terbagi menjadi dua bagian lagi, yaitu suku Bisman di antara Sungai Sinesty dan Sungai Nin serta suku Simai.Suku Asmat dikenal sebagai suku yang memiliki jiwa seni tinggi. Hasil ukiran kayunya yang unik sudah dikenal luas ke seluruh dunia. Dalam tradisi budaya suku Asmat, bila ada salah satu anggotanya meninggal, akan dikubur dengan iringan nyanyian berbahasa Asmat dan pemotongan ruas jari tangan anggota keluarga yang ditinggalkan.Bila yang meninggal kepala suku atau kepala adat, mereka akan melakukan pengawetan mayat hingga menjadi mumi yang akan dipajang di depan joglo. Seperti suku Irian Jaya lainnya, suku Asmat mengenal tradisi peperangan antarsuku.Suku Asmat termasuk suku yang “sadis” dalam hal ini karena setelah berhasil membunuh musuh, mayatnya dipotong dan kepalanya dipenggal. Otaknya dibungkus daun sago. Lalu, dipanggang dan dimakan bersama sambil menyanyikan lagu kematian.
11.Suku Imeko

Suku Imeko terdapat di bagian selatan Kabupaten Sorong Selatan. IMEKO adalah singkatan dari nama Inanwatan, Metemani, Kokoda. Ketiganya merupakan nama daerah sebaran mereka. Ada enam kelompok etnik di wilayah IMEKO, yaitu Inanwatan, Iwari, Eme, Awe’e, Dema, dan Meybrat.Suku Imeko terkenal dengan tarian adat yang disebut noabibido, artinya ‘tarian goyang panta’t. Tarian adat Imeko sering dilaksanakan pada saat-saat tertentu, seperti saat panen tebu dan memasuki rumah baru. Ciri khas tarian ini adalah gerakan-gerakan tangan yang menyerupai gerakan kepakan berbagai macam burung, seperti burung camar, elang, kasuari, atau kanguru.
12.Suku Dani

Suku Dani hidup di lembah Baliem, Wamena. Mereka tinggal di honai, rumah adat khas suku Dani. Honai terbuat dari jerami atau ilalang berbentuk kerucut. Sejak ratusan tahun lalu, suku Dani dikenal sebagai petani yang terampil. Mereka telah menggunakan perkakas, seperti kapak batu, pisau, bambu, dan tombak. Alat-alat tersebut terbuat dari batu, tulang binatang, dan kayu galian.Suku Dani memiliki tradisi rekwasi, yaitu upacara tarian keagamaan yang  diiringi nyanyian. Tarian ini merupakan tarian persembahan terhadap nenek moyang dan dilakukan pada saat tertentu, seperti peperangan. Di masa lalu, peperangan sangat erta hubungannya dengan suku Dani. Para prajurit akan dipersenjatai dengan berbagai senjata tradisional khas suku Dani, seperti tombak, kapak, parang, dan panah.Badan mereka dihiasi tanfa dari lemak babi, kerang, bulu-bulu, kuskus, sagu rekat, getah pohon mangga, dan bunga-bungaan. Sebelum berangkat, mereka mendendangkan nyanyian-nyanyian bersifat heroisme untuk menyemangati dengan diiringi alat musik pikon, satu alat yang diselipkan di antara lubang hidung dan telinga mereka. Pikon juga berfunsi sebagai isyarat kepada teman atau lawan di hutan kala berburu.
13.Suku Irian Jaya

Kesenian dan budaya suku-suku Irian Jaya ini merupakan kekayaan khasanah budaya Indonesia yang akan terkikis habis bila tidak diproteksi. Oleh karena itu, perlu perhatian serius dari pemerintah agar tidak mengalami kepunahan.Sebagai contoh, dari 190-an bahasa lokal yang pernah ada, 32 bahasa di ambang kepunahan, antara lain bahasa daerah Sarmi, Jayawijaya, Waropen, Metauke, Paniai, Teluk Wondama, Sorong Selatan, dan Fakfak. Sementara delapan bahasa daerah, sudah tidak terselamatkan alias punah. Yaitu, bahasa Bapu, Dabe, Wares, Taworta, Waritai, Murkim, Walak, Meoswar, dan Laganyam.Selain bahasa, termasuk pula syair-syair purba yang kina lama kina menyusut dan tidak dikenal lagi. Hal tersebut sangat disayangkan karena ragam bahasa daerah erat kaitannya dengan kearifan lokal.
14.Suku Baduy

Suku Baduy merupakan suku asli yang mendiami tanah Banten.  Suku ini mendiami daerah yang masih jauh dari keramaian di sekitar pegunungan Kendeng di Lebak, propinsi Banten. Kehidupan suku Baduy masih mempertahankan adat istiadat dan budaya leluhur mereka hingga saat ini.  Suku Baduy termasuk dalam kelompok suku Sunda yang berbahasa Sunda dengan dialek khas Banten.
Pembagian Suku Baduy
Ada dua kelompok suku Baduy yang dibedakan berdasarkan cara hidup dan tempat tinggal.  Hal ini disebabkan banyaknya generasi penerus suku Baduy yang ingin mengikuti perkembangan jaman dan teknologi.
Kehidupan Suku baduy berdasarkan pembagiannya yaitu:
•    Kehidupan suku Baduy Dalam.
Disebut suku Baduy Dalam karena masyarakatnya masih memegang teguh adat istiadat dan budaya yang telah diwariskan dari leluhur mereka.  Kehidupan suku Baduy Dalam ini masih alami, tidak diperbolehkan mengikuti perkembangan jaman dan teknologi.Wilayah suku Baduy Dalam masuk ke dalam wilayah Kanekes, Lebak Banten.  Untuk membedakan, orang Baduy dalam memiliki ciri-ciri khas yaitu dari pakaian yang dikenakan semuanya berwarna putih atau biru tua dengan menggunakan ikat kepalanya yang juga berwarna putih.Uniknya, pakaian yang dipakai harus merupakan hasil tenunan buatan sendiri dan bukan dibeli.  Hasil tenunan tersebut juga harus dijahit sendiri.  Suku Baduy Dalam ini tidak menggunakan alat-alat elektronik seperti televisi dan lainnya, juga tidak boleh menggunakan alas kaki seperti sendal dan sepatu saat berjalan.  Semuanya serba alami dan tidak mengikuti perkembangan jaman.Kehidupan suku Baduy Dalam ini memang masih tradisional dan mempertahankan tradisi.  Jika ada pendatang yang ingin masuk ke dalam suku Baduy dalam pun, harus menghormati tradisi disana.
•    Kehidupan suku Baduy Luar.
Kehidupan suku Baduy Luar  berbeda jauh dengan kehidupan suku Baduy Dalam.  Itulah sebabnya mereka disebut Baduy Luar, karena telah keluar dari wilayah asal di Kanekes dan membentuk kelompok baru disana.  Kehidupan suku Baduy Luar ini lebih mengikuti perkembangan jaman dan teknologi.  Umumnya, masyarakat suku Baduy Luar merupakan generasi muda yang menginginkan perubahan hidup.Masyarakat Baduy Luar telah mengenal alat elektronik seperti televisi dan lainnya.  Juga telah menggunakan alat transportasi umum atau kendaraan.  Kehidupan suku Baduy Luar lebih modern, pembuatan rumahnya jauh lebih mengikuti perkembangan jaman.Ciri-ciri orang Baduy Luar adalah pakaian yang dikenakannya berwarna hitam dengan ikat kepla yang berwarna hitam pula.  Pakaian yang dipakai bisa dibeli atau tidak ditenun sendiri.  Tidak ada larangan untuk memakai pakaian model yang lain.  Generasi muda suku Baduy luar bahkan sudah memakai kaos dan celana. Terlepas dari perbedaan kedua suku Baduy, kehidupan suku Baduy ini dapat menjadi contoh yang baik.  Menjaga keseimbangan alam dengan kehidupan manusia yang selaras dan serasi agar tidak terjadi kerusakan.
15.Suku Batak

Suku batak adalah suku yang terkenal dengan adat yang keras dan disiplin tinggi. Suku ini sendiri merupakan bagian ras proto melayan yang tinggal di perbatasan Myanmar. Pada mulanya suku ini bermukim di lembah perairan sungai serta puncak pegunungan yang tinggi. Bisa di bilang suku batak mempunyai sifat penyendiri dan tidak mudah membaur pada jamannya. Agama suku dalam adat yang mereka punya pun sangat kuat, yaitu mayoritas beragama Kristen dan khatolik. Tetapi ada beberapa suku batak yang menganut agama islam yaitu suku batak mandailing. Dalam suku batak sendiri, agama suku yang mereka yakini atau anut  sangatlah kuat. Terlihat bagaimana mereka mengadakan adat upacara yang kental akan unsur agamanya.
Kepercayaan yang Dianut
Kalau berbicara suku kepercayaan yang dianut orang batak di jamannya, suku ini tidak mengenal yang namanya agama. Pada saat itu ada beberapa kepercayaan etnik yang sempat berkembang, salah satunya adalah Agama Somalaing yang diperkenalkan oleh Guru Somalaing pardede, akan tetapi agama ini mulai menghilang dengan seketika. Setelah itu baru muncullah agama yang sangat di yakini suku batak sampai sekarang diantaranya: islam, Kristen protestan, dan khatolik.Seiring berkembangnya jaman, suku batak mulai menyebar ke berbagai pelosok, mereka meyebar diberbagai daerah dan mulai membaur dengan suku-suku lainnya. Orang batak terkenal dengan adat yang sangat keras serta logat bicara yang tak kalah kerasnya. Mereka di anggap kasar oleh suku lain karena berbicaranya yang terlalu keras. Padahal disisi lain suku batak sangatlah sayang dan hormat terhadap nenek moyang mereka. Bahkan ketika mereka mempunyai keturunan, sebagaimana mestinya para orang tua bertanggung jawab penuh terhadap kelangsungan hidup anaknya.Peran ayah sangat penting dalam keluarga ini, laki-laki sangat tinggi kedudukannya. Merekalah yang akan membawa atau meneruskan marga yang mereka sandang terhadap anak-anak mereka. Memang batak terkenal dengan adatnya yang keras sehinngga banyak sekali para orang tua dalam suku ini, mengharuskan anaknya mempunyai pasangan yang memang suku batak juga.
Marga – Marga Dalam Suku Batak
Di samping agama suku yang mereka anut sangat beragam, suku ini juga mempunyai beragam-ragam marga, di antaranya adalah :
1.    Hutagaol
2.    Silaban
3.    Simatupang
4.    Sihombing
5.    Batubara dll
Marga diatas adalah marga-marga yang terus di gariskan oleh turun menurun, sehingga marga yang di miliki tidak akan pernah hilang. Berbicara soal sifat yang mereka miliki, batak termasuk orang yang tidak suka basa basi, mereka adalah orang yang berterus terang walau terkadang sifat arogan kerap kali muncul. Walaupun begitu suku batak adalah bagian dari tanah air Indonesia yang harus tetap dijaga dan dilestarikan. Agama suku boleh saja berbeda, apalagi budayanya, maka dari itu harus tetap dipertahankan. Tentu saja kita sebagai bangsa indonesia haruslah menghormati dan saling bergandengan tangan, karena dengan begitu makin kuatlah kita di mata dunia sebagai bangsa yang pernah terjajah.
16.Suku Amazone

Tahukah Anda mengenai kehidupan suku Amazone? Memang banyak versi yang mengisahkan suku kontroversial ini. Salah satunya adalah yang menyebut bahwa Amazone berdasarkan tinjauan bahasa Iran kuno, yang berunyi “ha-mazana” dengan arti makna yakni “warriors” atau pejuang. Mengapa pejuang? Ternyata, usut punya usut, kata tersebut ditujukan bagi mereka para voluntir pejuang di pertempuran sengit Persia (492-448 SM).
Satu versi lagi, yakni Yunani yang menyebut bahwa Amazone memiliki makna buah dada yang hilang (breastless). Mengapa disebut buah dada yag hilang? Tertuju pada segolongan kaum perempuan pejuang yang sangat mahir dalam menggunakan panah. Perempuan-perempuan yan mahir memanah tersebut diketahui tak memiliki payudara yang sebelah kanan. Konon, satu payudaranya tersebut sengaja dipotong untuk memudahkannya ketika memanah.
Dalam sebuah mitologi Yunani kuno, menyebut bahwa Amazonia (suku Amazone) merupakan sekumpulan pemanah perempuan yang mahir dan sangat terlatih. Amazonia dilukiskan bermukin di sekitar wilayah laut Hitam (Turki sekarang). Kebudayaan suku Amazone ini, yang menurut Herodotus, seorang sejarawan Yunani diteruskan oleh keturunan hasil penyatuan suku dan kaum Scythian yang disebut sebagai Sarmatians.

Semuanya Perempuan
Berbagai literatur klasik menyebutkan bahwa keseluruhan suku Amazone berkelamin perempuan. Mereka sejak kecil sudah terdidik dan terlatih dalam berperang, menggunakan panah, tombak, dsb. Sebuah upacara adat yang mencengangkan bahwa setiap anak gadis yang dianggap sudah dewasa akan dipotong buah dada yang sebelah kanannya untuk mempermudah ketika melakukan aktifitas memanah.
Yang lebih unik, suku Amazone ini akan mencari laki-laki ke suku lainnya dengan maksud memuaskan hubungan seksualnya untuk regenerasi. Mereka akan mencari setiap laki-laki di suku lain untuk memuaskan nafsunya, dan setelahnya akan dibuang kembali ke suku dimana laki-laki itu berasal. Apabila mereka melahirkan anak berjenis kelamin perempuan maka akan dipelihara sebagaimana mestinya. Namun, apabila rahimnya melahirkan anak laki-laki maka anak tersebut akan dibuang ke suku dimana lelaki yang membuahinya berasal, atau dibesarkan untuk dijadikan budak.

Suku Amazone di Amerika
Sudah lama legenda suku Amazone dianggap punah (lietratur Yunani), penemuan mengejutkan disampaikan oleh penjelajah dari Spanyol, Francisco de Orellana pada abad ke-16. Orellana merupakan komandan ekspedisi Gonzallo Pizarro yang melakukan pelayaran sampai ke kawasan Amazon di benua Amerika Selatan.
Ekspedisi pertama dilakukan Orellana pada 1541-1542 dengan menyusuri sungai Amazone dari pantai Pasifik sampai ke pesisir Atlantik. Nah, dalam perjalanannya tersebut ia diserang oleh sekelompok orang yang semuanya perempuan. Perempuan-perempuan bersenjata tersebut kemudian mereka sebut dengan nama Amazone yang diadaptasi dari kisah suku Amazone yang telah dianggap punah oleh Yunani kuno.
Sampai akhirnya nama “Amazone” diabadikan untuk menyebut sebuah sungai yang sangat panjang membelah negara-negara Peru, Kolombia, Brasil di Amerika Latin. Termasuk juga nama hutan yang membentang sepanjang sungai diberi nama dengan hutan Amazone.
17.Suku Indian Kuno

Hampir tidak ada media yang membahas masalah Islamnya suku Indian kuno bernama Cherokee ini. Dan sedihnya, sumber tertulis yang memuat bukti bahwa suku Cherokee adalah muslim sangat-sangat sedikit.
Bukti Tertulis
Namun, kenyataan bahwa mereka memang sebagian besar memeluk agama Islam adalah benar dan dapat dibuktikan. Jika Anda sedang berlibur atau menempuh pendidikan di Amerika, sempatkanlah untuk mampir di perpustakaan kongres Amerika atau Library of Congress.Di sana terdapat sebuah bukti tertulis yang menunjukkan bahwa suku Indian kuno Cherokee yang hidup sekitar tahun 1787 ternyata menganut agama Islam. Di perpustakaan tersebut ada sebuah dokumen perjanjian yang ditandatangani oleh pemerintah Amerika saat itu dengan kepala suku Indian kuno Cherokee.Pada bagian tanda tangan kepala suku Cherokee, tertera namanya yaitu Abdel Khak dan Muhammad Ibn Abdullah. Itu sebuah bukti yang cukup kuat bahwa pada saat itu, suku Cherokee ternyata dipimpin oleh seorang muslim.
Sejarah Penyebaran Islam ke Amerika
Dalam sebuah catatan sejarah seorang ahli geografis muslim bernama Al-Mashudi yang hidup sekitar tahun 871 – 957 M, dalam buku yang berjudul ‘Muruj Adh-dhahab wa Maadin al-Jawhar’, ada seorang pelayar tangguh dan navigator handal bernama Khashkhash Ibn Saeed, yang telah berlayar mencapai benua Amerika tahun 889 M.Sejarah juga mencatat bahwa semangat menemukan dunia baru dari para pelayar tangguh yang berasal dari China juga telah membawa Laksamana Tjeng Ho hingga ke daratan Amerika. Beberapa bukti sejarah mengatakan bahwa prajurit dari sang Laksamana yang beragama Islam itu telah menetap dan menikahi penduduk setempat serta mengenalkan keberadaan agama Islam di benua tersebut.
Huruf Kuno yang Mirip Tulisan Arab
Suku Indian kuno Cherokee memiliki model tulisan sendiri yang telah lama tidak digunakan oleh mereka. Model tulisan tersebut bernama Syllabary. Syllabary banyak ditemukan terukir di bebatuan pegunungan Nevada. Bentuknya hampir mirip dengan tulisan Arab.Bahkan, pada beberapa tempat terukir bentuk tulisan nama Nabi Saw, Muhammad, dalam bahasa Arab. Kenyataan ini semakin menambah panjang bukti bahwa suku Indian kuno Cherokee ternyata menganut agama Islam.
18.Suku Nias
Suku Nias adalah kelompok masyarakat yang hidup di pulau Nias. Dalam bahasa aslinya, orang Nias menamakan diri mereka “Ono Niha” (Ono = anak/keturunan; Niha = manusia) dan pulau Nias sebagai “Tanö Niha” (Tanö = tanah).Suku Nias adalah masyarakat yang hidup dalam lingkungan adat dan kebudayaan yang masih tinggi. Hukum adat Nias secara umum disebut fondrakö yang mengatur segala segi kehidupan mulai dari kelahiran sampai kematian. Masyarakat Nias kuno hidup dalam budaya megalitik dibuktikan oleh peninggalan sejarah berupa ukiran pada batu-batu besar yang masih ditemukan di wilayah pedalaman pulau ini sampai sekarang.Kasta : Suku Nias mengenal sistem kasta(12 tingkatan Kasta). Dimana tingkatan kasta yang tertinggi adalah “Balugu”. Untuk mencapai tingkatan ini seseorang harus mampu melakukan pesta besar dengan mengundang ribuan orang dan menyembelih ribuan ekor ternak babi selama berhari-hari.
Asal Usul

Tari Perang
Menurut masyarakat Nias, salah satu mitos asal usul suku Nias berasal dari sebuah pohon kehidupan yang disebut “Sigaru Tora`a” yang terletak di sebuah tempat yang bernama “Tetehöli Ana’a”. Menurut mitos tersebut di atas mengatakan kedatangan manusia pertama ke Pulau Nias dimulai pada zaman Raja Sirao yang memiliki 9 orang Putra yang disuruh keluar dari Tetehöli Ana’a karena memperebutkan Takhta Sirao. Ke 9 Putra itulah yang dianggap menjadi orang-orang pertama yang menginjakkan kaki di Pulau Nias.
Penelitian Arkeologi
Penelitian Arkeologi telah dilakukan di Pulau Nias sejak tahun 1999 dan hasilnya ada yang dimuat di Tempointeraktif, Sabtu 25 November 2006 dan di Kompas, Rabu 4 Oktober 2006 Rubrik Humaniora menemukan bahwa sudah ada manusia di Pulau Nias sejak 12.000 tahun silam yang bermigrasi dari daratan Asia ke Pulau Nias pada masa paleolitik, bahkan ada indikasi sejak 30.000 tahun lampau kata Prof. Harry Truman Simanjuntak dari Puslitbang Arkeologi Nasional dan LIPI Jakarta. Pada masa itu hanya budaya Hoabinh, Vietnam yang sama dengan budaya yang ada di Pulau Nias, sehingga diduga kalau asal usul Suku Nias berasal dari daratan Asia di sebuah daerah yang kini menjadi negara yang disebut Vietnam.
Marga Nias
Suku Nias menerapkan sistem marga mengikuti garis ayah (patrilineal). Marga-marga umumnya berasal dari kampung-kampung pemukiman yang ada.
Makanan Khas Nias
•    Gowi Nihandro (Gowi Nitutu ; Ubi tumbuk)
•    Harinake (daging Babi cincang dengan cacahan yang tipis dan kecil-kecil)
•    Godo-godo (ubi / singkong yang diparut, dibentuk bulat-bulat kemudian direbus setelah matang di taburi dengan kelapa yang sudah di parut)
•    köfö-köfö(daging ikan yang dihancurkan, dibentuk bulat dan dijemur/dikeringkan/diasap)
•    Ni’owuru (daging babi yang sengaja diasinkan agar bisa bertahan lama)
Minuman
•    Tuo Nifarö (minuman yang berasal dari air sadapan pohon nira (dalam bahasa Nias “Pohon Nira” = “töla nakhe”) yang telah diolah dengan cara penyulingan)
Budaya Nias

•    Lompat Batu
•    Tari Perang
•    Maena
•    Tari Moyo
•    Tari Mogaele
•    Sapaan Yaahowu
Dalam budaya Ono Niha terdapat cita-cita atau tujuan rohani hidup bersama yang termakna dalam salam “Ya’ahowu” (dalam terjemahan bebas bahasa Indonesia “semoga diberkati”). Dari arti Ya’ahowu tersebut terkandung makna: memperhatikan kebahagiaan orang lain dan diharapkan diberkati oleh Yang Lebih Kuasa. Dengan kata lain Ya’ahowu menampilkan sikap-sikap: perhatian, tanggungjawab, rasa hormat, dan pengetahuan. Jika seseorang bersikap demikian, berarti orang tersebut memperhatikan perkembangan dan kebahagiaan orang lain : tidak hanya menonton, tanggap, dan bertanggungjawab akan kebutuhan orang lain (yang diucapkan : Selamat – Ya’ahowu), termasuk yang tidak terungkap, serta menghormatinya sebagai sesama manusia sebagaimana adanya. Jadi makna yang terkandung dalam “Ya’ahowu” tidak lain adalah persaudaraan (dalam damai) yang sungguh dibutuhkan sebagai wahana kebersamaan dalam pembangunan untuk pengembangan hidup bersama.
Tokoh Suku Nias
•    PR. Telaumbanua, Ketua Komite Nasional Indonesia(KNI)Kab Dati II Nias 1945, Bupati Kab Dati II Nias 1945-1954, Residen Sumatera Timur 1960-1963, Walikota Medan 1963-1965, Gubernur Sumatera Utara 1965-1967 dan Anggota DPR-RI Pemilu thn 1971
•    Pieter Taruyu Vau, Duta Besar Indonesia untuk Brasil dan Bolivia 2002-2005
•    Hekinus Manaö, Direktur Eksekutif Bank Dunia, November 2010-sekarang
19.Suku Mentawai

Tato sebenarnya bukanlah hal baru bagi bangsa Indonesia. Tato merupakan budaya global yang memperkaya khasanah budaya Indonesia.Sejak dulu, nenek moyang kita telah mengenal tato. Suku Mentawai, Dayak Iban, Dayak Kayan, Bali dikenal dengan tato tradisionalnya yang eksotik. Bagi masyarakat tradisional, tato bukanlah sekadar mencari sensasi dan kesenangan belaka, melainkan sangat sarat dengan berbagai makna.
Arat Sabulungan
Berbicara mengenai budaya Mentawai, tidak bisa terlepas dari Arat Sabulungan. Arat Sabulungan merupakan sistem yang mengatur masyarakat Mentawai yang mencakup pengetahuan, nilai, dan aturan hidup yang dipegang kuat dan diwariskan turun-temurun.Contohnya, tidak boleh menebang pohon sembarangan tanpa izin panguasa hutan (taikaleleu), perintah untuk menjaga keseimbangan dan keharmonisan alam, melakukan persembahan kapada roh nenek moyang, dan sebagainya.Arat Sabulungan berasal dari kata sa (se) atau ‘sekumpulan’, dan bulung yang artinya ‘daun’. Jadi, Arat Sabalungan adalah sekumpulan daun yang dirangkai dalam lingkaran terbuat dari pucuk enau atau rumbia yang diyakini memiliki tenaga gaib (kere).Arat Sabalungan dipakai sebagai media pemujaan Tai Kabagat Koat (Dewa Laut), Tai Ka-leleu (roh hutan dan gunung), dan Tai Ka Manua (roh awang-awang).Disamping itu,  Arat Sabulungan selalu digunakan pada saat upacara kelahiran, perkawinan, pengobatan, pindah rumah, dan penatoan.
Fungsi Tato
Dalam adat suku Mentawai, tato memiliki beberapa fungsi, di antaranya sebagai berikut.
•    Jati Diri, Status Sosial atau Profesi
Seorang pemburu memilki tato bergambar hewan buruannya, seperti babi, rusa, kera, burung, atau buaya. Berbeda dengan tato yang dimiliki oleh seorang dukun, yang bergambar bintang sibalu-balu. Berbeda pula dengan seorang yang ahli bertarung dan sebagainya.
•    Simbol Keseimbangan Alam
Suku Mentawai sangat menghormati alam karena mereka hidup berdampingan dengan alam. Oleh karena itu, mereka sangat memperhatikan keseimbangan alam. Hal itu diekspresikan dengan tato yang bergambar pohon, matahari, hewan, batu, dan sebagainya.
•    Keindahan
Suku Mentawai juga terkenal dengan masyarakatnya yang memiliki citra seni tinggi. Hal ini dapat dilihat dari aneka kerajinannya yang sudah dikenal ke mancanegara.Tidak heran bila mereka menjadika tato sebagai media untuk mengekspresikan keindahan. Berbagai macam gambar menghiasi tubuh mereka sesuai dengan kreativitas, seperti berbagai alat perang, daun beraneka motif, dan lain-lain.
Prosesi Penatoan
Anak laki-laki yang sudah menginjak usia 11-12 tahun (sudah akil balig) oleh orang tuanya akan dipanggilkan dukun (sikerei) dan kepala suku (rimata). Mereka merundingkan waktu pelaksanaan penatoan.Bila sudah disepakati hari dan bulannya, akan dipanggilkan Sipatiti (pembuat tato). Jasa pembuatan tato akan dibayar dengan seekor babi.Prosesi penatoan dimulai dengan punen enegat atau upacara inisiasi yang dipimpin dukun sikerei. Bertempat di puturukat (tempat khusus penatoan milik sipatiti).Penatoan dimulai dari telapak tangan, tangan, kaki, lalu ke seluruh tubuh. Pertama-tama, badan si anak dibuatkan gambar sketsa dengan menggunakan lidi. Setelah itu, dimasukkan zat pewarna ke dalam lapisan kulit dengan cara menusukkan jarum sambil dipukul perlahan.Jarum yang digunakan terbuat dari tulang hewan atau kayu karai yang diruncingkan.